Como Menang 2-1 Atas AS Roma, Fabregas Ungkap Kekecewaan atas Sikap Gasperini yang Menolak Bersalaman

Dalam pertandingan lanjutan Serie A yang berlangsung pada Minggu malam, 15 Maret, Como 1907 berhasil meraih kemenangan berharga dengan skor 2-1 atas AS Roma. Kemenangan ini menjadi momen emosional bagi Cesc Fabregas, pelatih Como, yang merasa kecewa dengan sikap pelatih Roma, Gian Piero Gasperini, yang menolak untuk bersalaman dengannya usai pertandingan.
Prestasi Epik Como 1907
Fabregas, mantan gelandang timnas Spanyol, tak mampu menyembunyikan emosinya saat membahas kemenangan tersebut. Ia merangkum penampilan timnya sebagai “epik” dan berpendapat bahwa ini adalah hasil dari kerja keras yang telah dilakukan sejak ia mengambil alih posisi pelatih Como.
Melihat para pemainnya mampu menunjukkan identitas permainan yang telah ia bangun, Fabregas memberikan pujian setinggi-tingginya. Menurutnya, kemenangan ini bukanlah keberuntungan semata, melainkan hasil dari strategi dan kerja keras yang telah dilakukan dalam jangka waktu yang panjang.
Permainan Indah Como
“Pertandingan ini sangat indah dan saya sangat menikmati setiap momennya. Kemenangan ini bisa dibilang sebagai momen epik yang dibayar dengan kerja keras tim. Pertandingan berjalan sangat intens, tapi kami selalu berusaha memainkan permainan kami sejak menit pertama,” tutur Fabregas.
Fabregas juga menambahkan bahwa performa Como musim ini bukanlah kebetulan. Ia menekankan pentingnya membangun tim berdasarkan karakter pemain, identitas permainan, dan keberanian untuk mengambil keputusan di lapangan.
Membangun Tim dengan Karakter
Fabregas berpendapat, “Ketika Anda membangun sebuah skuad, Anda harus memiliki ide yang jelas. Anda harus memahami karakter pemain, identitas mereka. Mengendalikan permainan memerlukan kekompakan, keberanian, dan rasa percaya diri. Hal-hal ini tidak bisa dibangun dalam beberapa minggu, melainkan perlu waktu berbulan-bulan.”
Kekecewaan Fabregas Terhadap Gasperini
Di sisi lain, Fabregas mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap Gasperini yang meninggalkan lapangan tanpa melakukan jabat tangan setelah pertandingan. Menurutnya, jabat tangan setelah pertandingan merupakan bentuk rasa hormat antar pelatih.
“Dalam dua tahun terakhir, saya selalu mendatangi pelatih lawan untuk berjabat tangan, apapun hasilnya. Setelah pertandingan selesai, Anda tetap berjabat tangan meski merasa dirugikan,” ujar Fabregas.
Ia pun menceritakan bahwa ia sempat menuju lorong stadion karena mengira Gasperini juga akan ke sana. Meski begitu, ia memilih untuk tidak memperbesar masalah tersebut.
Menjaga Kerendahan Hati di Tengah Euforia
Di tengah euforia kemenangan, Fabregas tetap meminta timnya untuk menjaga kerendahan hati. Como saat ini berada di posisi keempat klasemen dengan sembilan pertandingan tersisa di Serie A serta masih berpeluang di Coppa Italia.
“Kami harus tetap rendah hati, tetap alami, dan terus bekerja. Kami melangkah satu demi satu,” tutur Fabregas.